Tahun 2014, Indonesia sedang melakukan pesta demokrasi. Ya, pesta demokrasi yang seharusnya sudah selesai tetapi hingga saat ini MC belum mengatakan salam penutup. Pemilu 2014, merupakan pemilu yang dianggap cukup sukses. Mengapa sukses? Jumlah Golongan Putih semakin berkurang, dan euphoria pemilu sangat terasa. Dari mana kita tahu kalau jumlah Golongan Putih semakin berkurang? Dilansir dari salah satu website berita (http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/05/10/074125/2578828/1562/dibanding-tahun-2009-angka-golput-pemilu-2014-lebih-rendah) yang menyebutkan:
"Menjawab pertanyaan partisipasi pemilih pada pemilu legislatif ini mencapai 75,11 persen," kata Husni usai rapat pleno di kantor KPU. KPU mencatat jumlah seluruh suara sah adalah 124.972.491 suara dengan angka perolehan tingkat golput mencapai 24,89 persen. Jika dibandingkan dengan pemilu legislatif 2009, maka tingkat partisipasi masyarakat terhadap gelaran politik 5 tahunan ini meningkat. Tercatat bahwa angka golput pada Pileg 2009 mencapai 29,01 persen dengan tingkat partisipasi 70,99 persen.
Kemudian euphoria pemilu juga dapat di rasakan di media-media sosial yang didominasi oleh anak muda seperti twitter, ask.fm, path, dan facebook. Banyak anak muda di Indonesia dengan usia 17-25 tahun yang memberitakan mengenai pilihan-pilihannya dalam Pemilu. Misalkan saja, Rizky Aljupri (22) yang mencalonkan diri sebagai anggota DPD-RI. Walaupun tidak dapat memenangkan Pemilu Legislatif, 9 April 2014 kemarin, dalam akun twitternya terus membahas mengenai masalah-masalah politik yang merujuk pada Pemilu Presiden. Tweet-tweet yang diposting oleh Rizky ini dapat menjadi pengaruh dan motor untuk anak muda sehingga lebih aware dan peduli dengan kondisi politik yang terjadi di Indonesia.
Pemilu 2014, khususnya pemilu presiden sangat menarik untuk diikuti. Mengapa demikian? Karena selama 16 tahun, Indonesia mengalami masa demokratisasi, terdapat dua calon presiden yang memiliki kekuatan yang kuat yaitu pasangan Prabowo-Hatta Rajasa (berasal dari Militer) dan Joko Widodo-Jusuf Kalla (berasal dari Militer). Kedua pasangan sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa, ide-ide yang dibangun, program-program yang akan dijalankan dan lain-lain. Kondisi pertarungan politik yang seperti ini membuat kita berpikir dan merasakan bagaimana sengitnya pertarungan kandidat presiden seperti di Amerika Serikat yang memiliki kandidat dari Partai Republik dan Partai Demokrat. Bagaimana dua kandidat ini bertarung untuk memenangkan suara di daerah-daerah yang memiliki pengaruh partai yang kuat. Dan hal-hal seperti ini yang dapat menarik simpati anak muda. Bagaimana anak muda berpikir dan menganalisa mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin untuk membawa perubahan bagi Indonesia.
Bila kita memperhatikan sosial media, tentu pada masa-masa kampanye anak muda mengeluarkan opini mereka tentang calon presiden, sehingga banyak terjadi black campaign dan negative campaign yang menyerang kedua calon presiden ini. Banyak anak muda yang menjadi relawan kedua calon presiden, dan menggunakan cara yang digunakan untuk melakukan persuasif kepada anak muda lainnya yang belum menentukan pilihan.
Tidak dapat dipungkiri, peran anak muda dalam politik sangatlah penting, baik secara langsung seperti menggunakan hak suaranya dalam pemilu, ataupun tidak langsung seperti diskusi isu politik. Hal itu akan membawa kebiasaan yang baru untuk anak muda, sehingga mereka dapat berpikir kritis untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dalam segi pendidikan, kesehatan, kebebasan individu, dan lain-lain. Karena setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan proses politik yang terjadi akan mempengaruhi kehidupan individu-individu dalam suatu negara, seperti kenaikan harga BBM serta dampaknya, kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, bahkan konser artis luar negeri terjadi atas proses politik yang terjadi di dalamnya.
Yuk anak muda Indonesia tunjukkan aksimu Aksi tidak harus dengan melakukan demonstrasi di depan gedung DPR-RI, dengan membuat tulisan, dan diskusi politik juga merupakan bagian kepedulian kalian terhadap politik di Indonesia di masa yang akan datang.






