Senin, 05 Januari 2015

"War on Terror": Sebuah Opini mengenai Isu tentang Islam dan Terorisme yang Berkembang






Terorisme merupakan isu yang menjadi perhatian dunia khususnya negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, dan Inggris. Pasca terjadinya peristiwa 9/11 dimana World Trade Centre diserang menggunakan pesawat yang menabrakan diri. Penyerangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok teroris. Peristiwa 9/11 merupakan tonggak dari munculnya isu-isu sensitif terkait Islam dan terorisme. Keadaan tersebut dimulai ketika Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Presiden George W. Bush. George W. Bush menyatakan bahwa peristiwa 9/11 adalah sebagai ‘The Pearl Harbor of 21st Century”. Doktrin yang diberikan oleh Bush tersebut diikuti oleh negara-negara lainnya karena Amerika Serikat sebagai negara adidaya memiliki hagemoni terhadap negara-negara di dunia terutama di kawasan barat. Negara-negara barat lainnya mulai memperketat keamanan negara mereka karena takut akan serangan dari Al-Qaeda dan Jama’ah Islamiyah. [1] Munculah saat itu isu-isu mengenai terorisme. Isu Islam dan terorisme biasanya dikaitkan dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi negara yang berada di wilayah Asia Selatan, khusunya Pakistan juga menjadi perhatian.
Pakistan merupakan negara yang posisinya berada di Selatan dekat India. Pakistan merupakan salah satu negara yang paling berbahaya di dunia, hal tersebut dikarenakan beberapa sebab, yakni uji coba senjata nuklir, penyebaran obat-obatan terlarang, keditaktoran militer, dan terakhir Pakistan merupakan salah satu negara yang menjadi penyumbang teroris di dunia, dan memiliki jaringan dengan kelompok-kelompok militan Islam. Berkembangnya jaringan kelompok militan Islam di Pakistan ini, dipengaruhi oleh empat hal, yang pertama adalah konsep mengenai Jihad dalam Islam, kedua konteks sejarah Pakistan yang memiliki konflik dengan India, mengenai masalah Kashmir, tingkat pendidikan masyarakat Pakistan yang masih rendah dan lebih menekankan kepada ilmu-ilmu agama Islam, dan terakhir adalah letak geografis Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dan hubungan kedekatan kedua negara tersebut atas dasar agama Islam.
Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Data 2010 menyebutkan bahwa penduduk Pakistan sekitar 256,1117,000 jiwa, dengan 96.1% beragama Islam.[2] Bukan hal yang sulit untuk melakukan doktrinisasi terhadap masyarakat Pakistan untuk melakukan tindakan-tindakan yang diartikan sebagai “Jihad”, terutama ketika kita melihat konflik yang terjadi antara Pakistan dan India yang memperebutkan wilayah Kashmir. Pakistan menjadi kajian yang menarik untuk melihat bagaimana terorisme berkembang di negara tersebut. Dalam tulisan Jessica Stern yang berjudul Pakistan’s Jihad Culture, dan Bruce Riedel yang berjudul Pakistan and Terror: The Eye of the Storm, kedua tulisan tersebut sama-sama menjelaskan mengenai pengaruh Jihad dalam perkembangan kelompok Islam militan. Apa saja faktor-faktor internal dan eksternal dalam perkembangan kelompok islam militan.



Jihad sebagai Nilai Dasar Kelompok Teroris Islam
Dalam tulisan Stern, ia mengatakan bahwa gerakan-gerakan islam militan mendapatkan dukungan, dimana gerakan tersebut disebut dengan Muhajideen. Sebenarnya Muhajideen merupakan kelompok oposisi pemerintah di Afganistan ketika negara tersebut menerapkan sistem komunis, dan menjadi pendukung Uni Soviet. Pakistan memiliki dua alasan untuk mendukung apa yang disebut Muhajideen. Pertama, militer Pakistan bertekad untuk member pembalasan terhadap India yang diduga menyebarkan separatisme di bagian Pakistan Timur yang pada tahun 1971 menjadi Bangladesh. Alasan kedua, India memiliki kekuatan ekonomi, dan kekuatan militer. Pada tahun 1998 India menghabiskan waktu sekitar dua persen dari PDB $ 469.000.000.000 untuk pertahanan, termasuk bersenjata aktif kekuatan lebih dari 1,1 juta personel. Pada tahun yang sama, Pakistan menghabiskan sekitar lima persen dari $ 61000000000 PDB pada pertahanan, menghasilkan angkatan bersenjata aktif hanya setengah ukuran India.
Selain itu banyaknya masyarakat Pakistan yang bergabung dengan kelompok-kelompok Islam militan  juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Di Pakistan, pendidikan bukanlah sesuatu hal yang diwajibkan. Dimana dalam hal ini pendidikan formal yang mengajarkan mengenai ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, biologi, dan ilmu sosial sangat sedikit. Di Pakistan institusi pendidikannya lebih mengarah kepada pelajaran mengenai agama Islam,lembaga tersebut disebut dengan Madrasah. Dalam pendidikan agama ini munculah suatu permasalahan, dimana ekstrimis Islam melakukan doktrinisasi mengenai Jihad. Dimana konsep Jihad adalah berjuang untuk keadilan (terutama batin) dan berjuang untuk memurnikan diri dengan cara perang gerilya. Dengan kata lain, konsep Jihad yang diajarkan dalam institusi pendidikan tersebut bagaimana mereka berjuang atas nama Islam, dengan cara-cara yang keras. Islam percaya kepada satu Tuhan, yang memberikan mereka hidup dan dapat menyelamatkan mereka dari akhir zaman. Tetapi hal itu tidak menghalangi gagasan Islam tentang “pengorbanan diri” dengan berjalan di jalan Tuhan atau untuk melindungi Islam atau dinamakan sebagai Jihad.[3]
Pakistan juga bergabung dengan jaringan gerakan islam internasional, dengan kata lain dalam jaringan gerakan islam internasional terdapat negara-negara lain yang bergabung didalamnya, seperti Arab Saudi, Afganistan, dan lain-lain. Gerakan-gerakan Islam tersebut memiliki dana yang cukup untuk membelikan senjata-senjata. Sebagian besar dana kelompok militant merupakan sumbangan dikirim langsung ke rekening bank mereka dengan tanpa nama atau anonim. Tetapi terdapat konspirasi yang dituangkan dalam video Terror Storm, yang mengutarakan mengenai adanya hubungan kerjasama antara negara-negara super power seperti Amerika Serikat, bahwa mereka awalnya mendukung adanya kelompok-kelompok Islam militant. Dalam tulisan Riedel, juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat turut mendukung kelompok militant tersebut melalui Inter Services Intellegence Directorate (ISI).



Perkembangan Kelompok Teroris Islam
Baik dalam tulisan Stern ataupun Riedel, sama-sama menjelaskan mengenai Jihad dan bagaimana konsep Jihad dapat menjadi suatu landasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam Militan. Tetapi kedua perspektif penulis tersebut berbeda, karena Stern lebih menjelaskan budaya Jihad yang spesifik di Pakistan, sedangan Riedel menjelaskan mengenai budaya Jihad dalam skala internasional. Telah disebutkan diatas bahwa di Pakistan, institusi pendidikan lebih banyak mengajarkan mengenai agama Islam dibandingkan ilmu pengetahuan. Doktrinisasi mengenai konsep Jihad mendorong kelompok Islam Militan melakukan tindakan-tindakan atas dasar Islam. Selain itu alasan individu bergabung dengan kelompok Islam militant dan melakukan aksi Jihad, adalah karena masalah keuangan atau financial. Dalam tulisan Stern, banyak keluarga yang menerima bantuan keuangan dari kelompok Islam militant tersebut. Shuhda-e-Islam Foundation, didirikan oleh Jemaat Islamiyah pada tahun 1955, yayasan tersebut mengaku memberikan 13 juta rupee kepada keluarga martir (martir adalah orang yang mati karena perjuangan membela Islam atau yang telah melakukan Jihad). Yayasan tersebut juga mengaku memberikan dukungan keuangan untuk beberapa 364 keluarga dengan membayar pinjaman, pengaturan mereka dalam bisnis, atau membantu mereka dengan perumahan. Selain itu, yayasan memberikan emosional dan spiritual dukungan dengan terus-menerus mengingatkan keluarga tersebut.
Sedangkan dalam tulisan yang dikemukakan oleh Riedel, ia menyebutkan bahwa awal mulanya perkembangan dan budaya Jihad adalah ketika tahun 1980, dimana Uni Soviet waktu itu masuk ke dalam Afganistan. Munculah oposisi-oposisi pemerintah Afganistan tersebut yang disebut dengan Muhajideen. Dan ternyata, Amerika Serikat mendukung persenjataan kelompok oposisi ini, mengingat perang dingin saat Uni Soviet dengan Sekutu pada tahun tersebut. Kemudian dalam tulisannya disebutkan bahwa Pakistan adalah kunci kemenangan, menyediakan perlindungan dan dukungan dasar untuk jihad. Ditaktor  militer Pakistan, Zia ul Huq, siap untuk mengambil risiko besar untuk membantu perlawanan Afghanistan dan mungkin membayar harga dengan hidupnya. Zia terobsesi dengan pikiran bahwa Pakistan mungkin terancam kehancuran oleh Uni Soviet yang telah menguasai sebagian besar Afganistan. Dinas intelijen Pakistan adalah manajer perang.
 Hal ini ternyata sudah menjadi suatu rencana dari Amerika Serikat sendiri. sepanjang era 1950an dan 60an, Amerika Serikat berharap bisa membangun aliansi dengan negara-negara Islam yang cukup prestisius untuk mengimbangi “komunisme tak bertuhan” dan kekuaan-kekuatan nasionalis secular yang diwakili Naser, Presiden Mesir yang memimpin Arab. Terjadi pertikaian antara Islam dan nasionalisme populis, Amerika Serikat berpihak pada Islam. Kebijakan Amerika Serikat didorong oleh pertimbangan-pertimbangan Perang Dingin dan perhitungan strategis, bukan oleh sejarah, budaya, atau ketakutan intrinsik lain ataupun kebencian terhadap Islam.[4]
Setelah Rusia mundur dari Afganistan pada tahun 1989, para mujahideen mencoba untuk berbaris merebu Kabul, tetapi gagal merebut kota itu. ISI mengatakan Perdana Menteri Benazir Bhutto bahwa Kabul akan jatuh dalam hitungan hari; CIA mengatakan kepada Presiden George HW Bush yang sama. Sebaliknya, musim gugur waktu hampir tiga tahun. Kenaikan Taliban adalah respon terhadap perang saudara yang diikuti antara pihak mujahideen. Ini muncul di provinsi Pashtun selatan negara dipimpin oleh seorang yang sangat terluka termasuk kehilangan satu mata veteran jihad melawan Soviet, Mullah Omar. Omar menyatakan perang suci baru untuk membersihkan negara dari pihak yang bertikai dan menginstal sebuah pemerintahan Islam yang murni yang akan memulihkan hukum dan ketertiban. Omar merupakan seorang tokoh yang mulai menyebarkan mengenai Jihad. Ia merupakan lulusan dari Madrasah ternama di Pakistan. Kemudian dia melakukan upaya-upaya untuk melakukan aksi Jihadnya tersebut, mulai dengan mencari senjata-senjata seperti pistol, dan tank. Sejak saat itu, Pakistan mulai memberikan dukungan kelahirannya terhadap kelahiran Taliban. Sambil tetap hubungan terbuka untuk faksi lain, Pakistan melihat bahwa Taliban dengan segala usahanya dapat mengakhiri atau melakukan konsolidasi terkait perang sipil.
Taliban bukan satu-satunya ciptaan Isi pada 1990-an. Kemenangan Afganistan memberikan inspirasi bagi masyarakat Islam di Khasmir, kemudian masyarakat Khasmir melakukan usaha dengan cara, pemberontakan besar-besaran terhadap pendudukan India. Pakistan dengan cepat pun untuk mendukung pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Muslim di Khasmir. Dengan menggunakan taktik Afganistan digunakan untuk melawan Uni Soviet, maka Pakistan melakuakn penyerangan terhadap India dengan menyediakan pelatihan dan senjata bagi Muslim Kashmir. Secara bertahap kelompok Kashmirpun terbentuk. ISI menggunakan Afganistan sebagai dasar untuk melatih Kashmir melakukan tindakan atau pemberontakan atas nama Jihad. Dengan pelatihan koperasi di Afghanistan. ISI mencari ukuran untuk menokak tuduhan India bahwa Pakistan adalah negara sponsor terorisme.

Konspirasi Amerika Serikat dan Kelompok Terorisme Islam
Sering kali kita mendengar mengenai konspirasi. Konspirasi adalah suatu konsep yang sering kali diartikan sebagai suatu kejadian yang terjadi atas persengkokolan atas dua atau lebih pihak. Tetapi konspirasi ini masih menimbulkan pro dan kontra dalam setiap kejadian, misalkan mengenai hubungan Amerika Serikat yang memberikan dukungan militer terhadap kelompok-kelompok terorisme Islam. Amerika Serikat memberikan dukungan berupa persenjataan, dana, fasilitas-fasilitas terkait tempat berlatih dan lain-lain.
Dalam suatu tulisan yang tersebar, Nadeem Paracha menjelaskan dalam karyanya yang berjudul “Malala: The real story (with evidence)”, dalam tulisan tersebut menjelaskan mengenai konspirasi antara Amerika Serikat dan Pakistan, dan dalam tulisan tersebut menyebutkan ada empat hal yang harus digaris bawahi: (1) Banyak Agen CIA yang berada di wilayah Pakistan; (2) Amerika Serikat telah menstabilkan Pakistan; (3) Amerika Serikat menjadikan Pakistan sebagai salah satu negara yang akan diberikan bantuan keuangan; (4) Amerika Serikat ingin mengembangkan nuklir di Pakistan.[5] Tampaknya Amerika Serikat memiliki arah untuk mengembangkan nuklir di Paksitan, dalam video berurasi kurang lebih dua jam sempat disebutkan bahwa Amerika Serikat memberikan dana kepada pasukan militer di Pakistan. Dana yang diberikan kepada Amerika Serikat itu digunakan untuk mengembangkan nuklir di Pakistan.
Beberapa hal telah disebutkan diatas, bahwa Amerika Serikat turut memberikan bantuan dana, dan persenjataan terhadap kelompok-kelompok Islam, tidak hanya di Pakistan, tetapi negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Afganistan juga mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat. Kasus menarik ketika awal dibukannya konspirasi yang terjadi pada saat perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat tidak menginginkan terjadinya ekspansi paham komunis. Ia berusaha mencoba mendapatkan perhatian dari negara-negara Islam. Ia menginginkan membangun aliansi-aliansi di negara-negara timur tengah, agar memperkuat kekuatannya dibandingkan Uni Soviet. Tapi tampaknya Amerika Serikat perlu berhati-hati dengan sikap ‘baiknya’ terhadap negara-negara yang telah dibantunya tersebut. Ketika terjadi peristiwa 9/11 Amerika Serikat seakan dibuat takut oleh tingkah yang dilakukan oleh sekelompok yang dahulunya pernah ia bantu. Setelah peristiwa tersebut,  memberikan suatu referensi baru terhadap kebijakan-kebijakan Amerika Serikat yang memberikan tekanan dan diskriminasi secara politik dan sosial terhadap komunitas Muslim. Kebijakan domestik ini, dipasangkan dengan kebijakan luar negeri yang agresif dikelompokan sebagai “War on Terror” yang berpusat pada invasi dan okupasi terhadap daerah-daerah muslim tanpa hormat melewati batas hukum internasional dan prinsip moral. Tetapi yang masih menjadi konspirasi, konsep War on Terror justru digunakan oleh Amerika Serikat untuk menutupi tindakannya bahwa ia memberikan bantuan-bantuan terhadap koelompok Islam.
Melihat hal tersebut, saya merasa bahwa perkembangan kelompok militan islam di Pakistan dikarenakan masalah pendidikan yang masih rendah. Apalagi sekolah-sekolah umum dengan sistem sekuler sangat sedikit. Ilmu pengetahuan yang diajarkan juga masih sangat sempit, sehingga membuat masyarakat Pakistan berpikiran sempit dan mudah di doktrinasi oleh ajaran-ajaran agama Islam yang justru membuat citra Islam semakin buruk. Dalam kasus kali ini, mungkin saya setuju bahwa Amerika Serikat turut memberikan dana kepada negara Pakistan, tetapi apakah Amerika Serikat hanya memberikan bantuan dana untuk militer dan kelompok Islam Militan. Ada baiknya, Amerika Serikat seharusnya membangun sekolah dengan sistem pendidikan sekuler yang mengajarkan mengenai ilmu pengetahuan. Sumber daya manusia untuk mengajar dan mendidik harus disiapakan, dan diberi bantuan beasiswa untuk belajar di negara-negara Barat, sehingga pikiran-pikiran tersebut menjadi terbuka. Konspirasi antara Amerika Serikat dan negara-negara Islam salah satunya Pakistan tentu masih menuai dinamika pro-kontra, dan tidak dapat dibuktikan secara absolut tentang kebenaran hal tersebut.

Daftar Rujukan:
Utama:
Stern, Jessica. Pakistan’s Jihad Culture. Foreign Affairs, Vol. 79, No. 6 (Nov. - Dec., 2000), pp. 115-126.
Riedel, Bruce.  Pakistan and Terror: The Eye of the Storm . Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 618, Terrorism:What the Next President Will Face (Jul., 2008), pp. 31-45.

Rujukan Tambahan:

Fanani, Ahmad Fuad. The Global War on Terror. American Foreign Policy, and its Impact  on Islam and Muslim Societies. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies.  Volume 1, Number 2, December 2011.
---, Muslim Population Country Projcection 2030http://www.theguardian.com/news/datablog/2011/jan/28/muslim-population-country-projection-2030, diakses pada Minggu, 14 Desember 2014 pukul 14.00 WIB.
Hooker, Virginia, Amin Saikal. Islamic Perspective on the New Millennium.  Singapore: ISEAS Publication. 2004.
Greges, Fawaz A. Amerika dan Islam Politik: Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan. Jakarta: AlvaBet. 2002.
Kugelman, Michael.  Four Pakistani Conspiracy Theories Thate Are Less Fictitious than You’d Think. http://warontherocks.com/2014/03/four-pakistani-conspiracy-theories-that-are-less-fictitious-than-youd-think/#_ diakses pada hari Senin, 15 Desember 2014 pukul 13.30 WIB.





[1] Ahmad Fuad Fanani, The Global War on Terror, American Foreign Policy, and its Impact  on Islam and Muslim Societies, Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies,  Volume 1, Number 2, December 2011, hlm. 205-227.
[2] ---, Muslim Population Country Projcection 2030http://www.theguardian.com/news/datablog/2011/jan/28/muslim-population-country-projection-2030, diakses pada Minggu, 14 Desember 2014 pukul 14.00 WIB.
[3] Virginia Hooker dan Amin Saikal, Islamic Perspective on the New Millennium, Singapore: ISEAS Publication, 2004, hlm. 19-21.
[4] Fawaz A Greges, Amerika dan Islam Politik: Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan, Jakarta: AlvaBet, 2002, hlm. 51.
[5] Michael Kugelman, Four Pakistani Conspiracy Theories Thate Are Less Fictitious than You’d Think, http://warontherocks.com/2014/03/four-pakistani-conspiracy-theories-that-are-less-fictitious-than-youd-think/#_ diakses pada hari Senin, 15 Desember 2014 pukul 13.30 WIB